Jumat, 31 Oktober 2014

Nining Sulastri


Pendahuluan
Filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan dimana ilmu menjadi objek kajianya, didalamnya terdapat berbagai hal yang berhubungan tentang ilmu entah itu pengertian, cirri, jenis danlain sebagainya. Filsafat ilmu adalah pikiran-pikiran yang reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala aspek dari kehidupan manusia (The Liang Gie, 2004). Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Salah satu kajian Ontologi yaitu kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan.
Menurut Bahasa, Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi  bisa diartikan The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau  Ilmu tentang yang ada. Pengertian menurut istilah, Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak (Bakhtiar, 2004).
Terdapat beberapa aliran yang mengemukakan tentang sumber ilmu pengetahuan diantaranya :
·                        Rasionalisme
Aliran ini muncul pada abad 17, Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio atau akal (Harun Hadiwijono, 1980) Metode yang digunakan adalah metode deduktif, yaitu suatu penalaran yang mengambil kesimpulan dari suatu kebenaran yang bersifat umum untuk diterapkan kepada hal-hal yang bersifat khusus. Tokoh-tokoh filsafat dari mazhab rasionalisme diantaranya adalah Rene Descartes, Blaise Pascal, Baruch Spinoza. Tokoh rasionalisme yang sangat berpengaruh adalah Rene Descartes yang disebut juga bapak filsafat modern. Salah satu pernyataan paling populer dari Descartes adalah cogito ergo sum, yang artinya aku berpikir maka aku ada.
·                     Empirisme
Aliran ini muncul sezaman dengan rasionalisme yaitu pada abad 17. Empirisme berpendapat bahwa empiri atau pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengetahuan lahiriah maupun batiniah. Metode yang dipercayai adalah induktif, yaitu suatu penalaran yang mengambil kesimpulan dari suatu kebenaran yang bersifat khusus untuk diterapkan kepada hal-hal yang bersifat umum. Beberapa tokoh dari aliran ini diantaranya adalah Thomas Hobbes, John Locke dan David Hume. Thomas Hobbes misalnya berpendapat bahwa pengalaman adalah awal dari semua pengetahuan. Hanya pengalamanlah yang memberi kepastian. Filsafat harus diarahkan kepada fakta-fakta yang diamati, dengan maksud untuk mencari sebab-sebab terjadinya sebuah realitas.
·                     Positivisme
Aliran  ini berkembang pada abad 19. Positivisme berpendapat bahwa pemikiran filsafat berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Sehingga sesuatu yang sifatnya metafisik ditolak. Positivisme dan empirisme memiliki kesamaan, yaitu bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Perbedaannya positivisme membatasi diri pada pengalaman-pengalaman objektif, sedangkan empirisme masih menerima pengalaman yang subjektif. Beberapa tokoh dari aliran ini antara lain August Comte, John Stuart Mill dan Herbert Spencer. August Comte menyatakan bahwa perkembangan pemikiran manusia, baik sebagai pribadi maupun manusia secara keseluruhan meliputi tiga zaman, yaitu: zaman teologis, zaman metafisis dan zaman positif.
Dalam pembahasan ini saya akan mencoba menjelaskan salah satu dari tiga aliran yang telah di sebutkan dengan objek.

Pembahasan
Salah satu pelopor rasionalisme adalah Descartes, menurutnya pengetahuan tentang sesuatu bukan hasil pengamatan melainkan hasil pemeriksaan rasio (dalam Hadiwijono, 1981). Pengamatan merupakan hasil kerja dari indera (mata, telinga, hidung, dan lain sebagainya), oleh karena itu hasilnya kabur, karena ini sama dengan pengamatan binatang. Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Pangkal pemikiran yang pasti menurut Descartes dikemukakan melalui keragu-raguan. Keragu-raguan menimbulkan kesadaran, kesadaran ini berada di samping materi. Prinsip ilmu pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain berpijak pada materi juga dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808). Menurut Immanuel Kant ilmu pengetahuan itu bukan merupakan pangalaman terhadap fakta, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh rasio.
Misalkan dalam penulisan sebuah teori, atau karya penulisan teory Roman Jakobson tentang pemikiran manusia yang secara umum dibagi menjadi dua yaitu metapora dan metonim. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pengalaman saja tapi juga proses berpikir yang melibatkan dan menggabungkan tentang kemiripan dari generalisasi pemikiran pasien aphasia dengan teory literature yang membuatnya mngambil kesimpulan dari pemikiran tersebut.
Menurut apa yang ditemukanya Varietas aphasia [gangguan bahasa] banyak dan beragam, tetapi semuanya terletak di antara dua jenis kutub yaitu metapora dan metonimi. Setiap bentuk gangguan aphasic terdiri dalam beberapa gangguan, kurang-lebih, baik dari kumpulan untuk seleksi dan substitusi atau untuk kombinasi dan komposisi kata. Penyakit yang di alami penderitaan melibatkan kerusakan operasi metalinguistik, sedangkan kerusakan kedua kapasitas untuk menjaga hirarki unit linguistik. Hubungan kesamaan ditekan dalam hubungan kedekatan dalam jenis kedua aphasia. Metafora adalah gangguan kesamaan kata atau tidak bisa menjelaskan kata secara metafora, dan metonimi gangguan kedekatan kata atau tidak bisa menjelaskan kata secara metonimi.
Kedua Jenis utama aphasia ini menyebabkan Jacobson memahami bahwa sastra atau bentuk pikiran manusia terbagi menjadi dua jenis utama berpikir,  baik  itu metaforis atau metonymic.
Misalnya ada beberapa kasus penulis yang disebutkan Jakobson dalam tulisannya yang memiliki gangguan mental atau aphasia, pasien menunjukkan bahwa ketidakmampuan dari metonymic yang memiliki semacam hambatan untuk pekerjaan mereka, pembaca untuk karyanya menjadi kesulitan karena sulit memahami makna dalam karyanya karena penulis terus-menerus menggunaan gaya metonimi. Ini menunjukkan bahwa manusia untuk bagian tertentu memiliki pemahaman baik metaforis dan metonymic,  tapi yang dominanlah  yang menyebabkan pengaruh tertentu dalam gaya bicara mereka dab juga  gaya pemikiran mereka, dan untuk memahami pekerjaan menulis atau karya sastra, kedua  jenis utama gaya penulisan ini dapat membantu untuk memahami makna dalam memahami karya sastra.

Kesimpulan
Rasionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio atau akal. Dari contoh di atas bisa dikatakan bahwa pengalaman saja tidak cukup untuk menjadikanya sebuah dasar pengetahuan tetapi juga ditambah dengan pemikiran yang di kemukan oleh kaum rasionalis pengetahuan dapat terbentuk dan dapat dijadikan sebagai landasan ilmu pengetahuan walaupun dalam langkah selanjutnya masih banyak langkah-langkah atau metode-metode selanjutnya agar menjadi ilmu pengetahuan yang berguna bagi manusia.
Pemikiran Jacobson ini bukanlah hanya berasal dari pengalaman umum saja melainkan hasil dari proses berpikir yang menggunakan rasio dan membuatnya menjadi pengetahuan yang masih digunakan sampai saat ini.


Reference
Jakobson and Morris Halle. 1971. Fundamentals of Language. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich : 1113-1116.
Holman, Hugh, ed. 1972. A Handbook to Literature.  3d ed. Indianapolis: Bobbs-Merrill.
Basuki, Heru.2006. Penelitian Kualitati Untuk Ilmu-Ilmu Kemanusiaan Dan Budaya. Jakarta.


Reni Murniati


            Kajian Ontologi dalam Novel Dunia Sophie
Karya Jostein Gaarder
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Memberikan definisi atau batasan tentang filsafat bukan perkara mudah, karena bagaimana mungkin membatasi pengetahuan yang radikal dan tanpa batas dengan pembatasan-pembatasan yang menutup ruang geraknya. Secara logika, mendefinisikan berarti membatasi suatu terminology atau konsep agar dengan mudah dapat dibedakan dengan konsep lainnya, sebagaimana terjadinya perbedaan definitive antara ilmu dan pengetahuan serta antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Akan tetapi, salah satu kerja filsafat adalah memberikan batasan, terpaksa ia pun harus menerima untuk dibatasi. Semua konsep secara logika diberikan pengertian-pengertian yang menbatasinya, sebgaimana filsafat yang biasanya memberikan pengertian terhadap konsep diluar dirinya akhirnya wajib membatasi dirinya sendiri.
Fisafat adalah pencarian kebenaran melalui alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat melainkan mengikuti aturan main yang benar. Lalu, apa dan bagaimana aturan mainnya sehingga berfilsafat diartikan sebagai berfikir sistematis. Oleh karena alasan tersebut, maka pada makalah mini research ini penulis akan membahas mengenai kajian yang paling utama yaitu ontology, dalam karya sastra tepatnya dalam novel “Dunia Sophie karya Jostein Gaarder”.
Ontologi dapat disebut juga sebagai Teori Hakikat. Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencangkup hakikat pengetahuan dan hakikat nilai. Ada beberapa aliran yang muncul dalam kajian ontologi diantaranya yaitu aliran Materialisme, Idealisme, Dualisme, Skeptisisme dan masih banyak lagi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Mengetahui Aliran Idealisme
2.      Mengetahui contoh aliran Idealisme yang terdapat dalam novel Dunia Sophie
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Aliran Idealisme

Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata Idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini telah dimiliki oleh Plato dan pada filsafat modern dipelopori oleh J.G Fichte, Schelling dan Hegel.
Idealism mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh Teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada spirit tidak disebut idealis, karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Mereka menggunakan argument yang mengatakan bahwa objek-objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan. Argumen orang-orang idealis mengatakan bahwa objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit.
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan Rasionalisme. Ini adalah mahzab epistemologi yang mengajarkan pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme dalam epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa penegatahuan bukan diperoleh melalui rasio atau akal, melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung pada jiwa atau roh, karena pandangan itu melibatka dogma metafisik.
Plato sering disebut sebagai seorang idealis sekalipun idenya tidak khusus (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan objek universal (mirip definisi pada Aristoteles, pngertian umum pada Socrates). Akan tetapi, ia sependapat dengan idealisme modern yang mengajarkan bahwa baik hakikat penampakan (yang tampak) itu berwatak khas spiritual. Ini telihat jelas pada legenda manusia “gua-nya” yang terkenal. Pandangan ini dikembangkan oleh Plotinus.
B.     Analisis Novel

Sesuai dengan pengertian diatas bahwa Idealisme adalah aliran yang meyakini bahwa segala sesuatu bersumber dari Ide. Sesuai kutipan yang terdapat dalam novel seperti berikut:
“Dia ingat bagaimana dia dulu dan ayahnya pergi berbelanja, sementara ibunya sibuk memanggang kue-kue Natal. Ketika mereka kembali, ada banyak kue jahe berbentuk orang terletak dimeja dapur. Meskipun mereka tidak sempurna, dalam hal tertentu mereka semua sama. Dan mengapa begitu? Jelas karena ibunya telah menggunakan cetakan yang sama”
Dari kutipan diatas kita bisa melihat contoh dari idealisme, yakni tentang “Kue Jahe dan Cetakan”. Banyaknya kue jahe dimeja dapur dapat diibaratkan sebagai sesuatu atau apa-apa saja yang ada di dunia ini. Sedang cetakan adalah Ide yang mendasari terciptanya sesuatu itu. Jadi bagaimanapun keadaan atau apa yang dapat disaksikan oleh panca indera, sesungguhnya itu hanyalah ciptaan dari dunia ide tersebut, seperti halnya cetakan kue yang bisa menghasilkan banyaknya kue-kue jahe yang walaupun mereka tidak sempurna tapi pada hakikatnya mereka sama.
Dalam pembahasan lain, Plato dengan Ide-nya juga mengemukakan tentang konsep “Keabadian” yang dalam hal ini erat kaitannya dengan jiwa. Bisa kita lihat pada kutipan berikut:
“Selanjutnya, Plato mengajukan pertanyaan yang benar-benar sulit. Apakah manusia mempunyai jiwa yang kekal?. Itu adalah sesuatu yang Sophie merasa tidak sanggup menjawab”.
Kutipan diatas menjelaskan bagaimana Plato memiliki pemahaman bahwa sebuah keabadian dalam jiwa manusia. Walaupun yang kita tahu adalah bahwa tubuh-tubuh yang telah mati biasanya dibakar ataupun dikubur, sehingga tidak ada masa depan lagi bagi mereka. Jika manusia mempunyai jiwa yang kekal, berarti kita harus percaya bahwa seseorang terdiri dari dua bagian yang terpisah. Yaitu tubuh yang akan menjadi rusak setelah lewat bertahun-tahun, dan jiwa yang bekerja secara mandiri di luar apa yang menimpa tubuh.
Secara ringkas, kita dapat memastikan bahwa Plato memikirkan hubungan antara yang kekal dan abadi di satu pihak dan yang berubah di pihak lain. Dia memikirkan apa yang kekal dan abadi di alam dan apa yang kekal dan abadi dalam kaitannya dengan moral dan masyarakat. Bagi Plato, kedua masalah ini sama. Dia berusaha untuk menangkap suatu realitas yang kekal dan abadi. Plato percaya bahwa jiwa telah ada sebelum ia mendiami tubuh. Seperti halnya “cetakan kue”, jiwa berada bersama seluruh cetakan kue tersebut.
Selain itu, Plato dengan idealismenya juga meyakini tentang konsep “Pengetahuan Sejati”. Untuk lebih jelas kita lihat dalam kutipan berikut:
“Segala sesuatu yang nyata, dapat disamakan dengan busa sabun, sebab tidak ada sesuatu pun yang abadi di dunia inderawi. Kita tahu, tentu saja, bahwa cepat atau lambat setiap manusia dan setiap binatang akan mati dan membusuk. … kita hanya dapat mempunyai pengetahuan sejati tentang segala sesuatu yang dapat dipahami akal kita.”
Konsep pengetahuan sejati teletak pada pemahaman dan pengetahuan yang membentuk akal kita bahwa ada sesuatu yang bisa diyakini dan pasti akan terjadi. Seperti halnya bahwa semua manusia dan binatang “akan mati” dan membusuk. Pernyataan “akan mati” tersebut telah kita percayai dan bahkan akan selalu kita percayai, hal inilah yang oleh Plato disebut dengan “Pengetahuan Sejati”. Pendeknya, kita hanya dapat memiliki konsepsi-konsepsi yang tidak tepat mengenai benda-benda yang kita lihat dengan indera kita. Tapi kita dapat memiliki pengetahuan sejati tentang benda-benda yang kita pahami dengan akal kita. Seperi misalnya, jumlah sudut dalam sebuah segitiga tetap 180 derajat sampai kiamat nanti, dan pengetahuan inilah yang kemudian oleh Plato lagi-lagi dinamakan dengan “Pengetahuan Sejati”.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Fisafat adalah pencarian kebenaran melalui alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat melainkan mengikuti aturan main yang benar.
Ontologi dapat disebut juga sebagai Teori Hakikat. Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencangkup hakikat pengetahuan dan hakikat nilai. Salah satu aliran dari ontology adalah Idealisme.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata Idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa.

DAFTAR PUSTAKA

Gaarder, Jostein. 2010. Dunia Sophie. Bandung: miZan
Tafsir, Ahmad. 1990. Filsafat Umum. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Abdul Hakim, Atang. Dkk. 2008. Filsafat Umum. Bandung: CV PUSTAKA SETIA


Resimah

                                             
Sastra Dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Rumusan Masalah
1.    bagaimana ontologi sastra sebagai ilmu?
2.    Bagaimana epistemologi sastra sebagai ilmu?
3.    bagaimana aksiologi sastra sebagai ilmu?
4.    Apa yang menjadi ontologi atau hakikat atau inti sastra atau kesusastraan?
5.    Apakah Sastra atau kesusastraan itu seni atau bukan?
6.    Apakah Sastra atau kesusastraan itu media komunikasi atau bukan?
7.    Bagaimana asksiologi sastra?
Pengertian Ilmu
Sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan memiliki kriteria, yaitu mempunyai ontologi, mempunyai epistemologi dan mempunyai aksiologi. Ontologi ada yang menyebutnya dengan istilah teori kebenaran. Ontologi adalah hakikat, inti, atau esensi. Ontologi membahas tentang hakikat, inti, atau esensi dari yang disebut pengetahuan atau dengan kata lain ontologi mengkaji tentang ‘realitas sejati’ dari pengetahuan. Maka, yang dipertanyakan dalam ontologi ini apakah hakikat atau inti esensi dari pengetahuan tersebut. Misalnya apakah hakikat, esensi dari sastra, apakah hakikat, esensi dari komunikasi, dan sebagainya.  Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan (Pranarka, 1987:3). Epistemologi mengkaji tentang validitas (keabsahan) dan batas-batas ilmu pengetahuan.
Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui proses tertentu, yang dinamakan metode keilmuan. Metode keilmuan ini ada dua pertama metode deduksi dan kedua metode induksi.  Aksiologi atau mengenai hal-hal yang normatif. Misalnya kegunaan ilmu. Manfaat atau kegunaan apakah yang dapat langsung dirasakan atau tidak langsung, sejauh mana dampak atau pengaruhnya terhadap manusia, dan sebagainya.
Ilmu memiliki sifat sebagai berikut (Bawa, 2003:12-13):
a.      Bersifat akumulatif dan milik bersama. Artinya hasil dari setiap ilmu boleh dipakai oleh siapa saja.
b.      Hasil ilmu tidak bersifat mutlak, artinya ilmu tidak terlepas dari kesalahan (bukan kesalahan metodenya)
c.      Ilmu itu obyektif artinya berdasarkan
d.      fakta dan atau faktual, bukan berasal dari
e.      intuisi pribadi, atau hal-hal yang gaib.
Menurut Ralph Rose dan Ernest Van den Haag, bahwa sifat ilmiah adalah, 
a.   Rasional.
b.   Bersifat empiris
c.   Bersifat umum, dan
d.   Ilmu bersifat akumulatif.  
  Hakikat ilmu adalah esensi, inti dari pengetahuan. Esensi atau hakikat ilmu bahwa ilmu mempunyai ontologi (hakikat atau esensi), mempunyai epistemologi (metode atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar), sehingga jelas batas-batasnya antara ilmu pengetahuan yang satu dengan ilmu pengetahuan yang lainnya, dan mempunyai aksiologi yaitu kegunaan atau kemanfaatan ilmu pengetahuan. Sifat ilmu adalah kumulatif, tidak bersifat mutlak, obyektif, rasional, bersifat empiris, bersifat umum. 
 PENGERTIAN SASTRA
Istilah sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta; akar kata  sas biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Awalan su   berarti baik, indah, sehingga susastra dapat dibandingkan dengan belles-lettres (Teeuw. 1988:23).
Dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia yang disusun oleh Kridalaksana (1977:154), sastra bersinonim dengan bahasa indah, pustaka, buku, persuratan. Kesusastraan bersinonim dengan literatur, kepustakaan, seni kata. Sastrawan bersinonim pujangga, pengarang, penyair.
Eagleton (1988:1-2) mengatakan kesusastraan adalah karya tulisan yang bersifat "imajinatif. Kesusastraan adalah sejenis karya tulisan yang mewakili suatu  keganasan yang  teratur terhadap pertutur an biasa. Kesusastraan mengubah dan memadatkan bahasa harian.
Luxemburg, dkk. (1984:5,9) mengatakan kesusastraan merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. 
Menurut Ahmad (1952:6) kesusastraan ialah himpunan segala sastera atau karangan yang indah, karangan yang baik. Kesusastraan atau seni sastra ialah segala pensahiran pikiran atau perasaan dengan memakai alat bahasa, baik dengan lisan maupun tulisan yang memenuhi syarat-syarat kesenian. Sedangkan menurut Nasution, dkk (1973: 11) kesusastraan ialah segala karangan yang baik bentuk dan isinya, yang dimaksud bentuk dan isi ialah pemakaian bahasa dan teknik pengolahan sesuatu karangan, sedangkan isi, berarti pikiran atau ide yang dikemukakan. Kemudian berdasarkan Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia pada tanggal 25-28 Oktober 1966 (1967:184), diungkapkan kesusastraan adalah sebuah peristiwa seni yang memakai bahasa sebagai mediumnya.   Di samping itu, sastra sebagai ilmu menurut Teeuw (1988:120) menunjukkan keistimewaan, barangkali juga keanehan yang mungkin tidak dapat dilihat pada banyak cabang ilmu pengetahuan lain yaitu obyek utama penelitiannya tidak tentu malahan tidak karuan.
      Sebagai kegiatan kreatif karya sastra adalah sebuah seni bahasa. Bersifat imajinatif, berarti kalaupun realitas yang disajikan sebuah karya sastra adalah sebuah realitas yang sungguh-sungguh ada, seolah-olah dapat dijadikan studi sejarah misalnya, tetapi realitas seperti ini adalah realitas yang sudah dimodifikasi, direkonstruksi oleh seorang pengarang berdasarkan kehendak hatinya.
      Dalam hal ini maka pendekatan karya sastra dapat dibagi atas dua bagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik. Kedua pendekatan ini hanya terpisah dalam istilah saja. Pada kenyataannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi, saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra, bukan saling berbeda, sebab kalau pembicaraan terhadap sebuah karya sastra lebih ditekankan ke segi ekstrinsiknya, pembicaraan karya sastra menjadi lain, boleh jadi bukan lagi pembicaraan tentang kesusastraan. Menekankan ke bidang sosiologi misalnya, akan menjadi semacam uraian tentang sosiologi. Menekankan kepada bidang sejarah misalnya, akan menjadi semacam pembicaraan tentang sejarah. Jadi, walaupun pengertian sastra dan ilmu sastra samar-samar, setidak-tidaknya karya sastra mengandung tujuh unsur (Aminuddin, 1987: 51)., yaitu unsur kebahasaan,struktur  wacana, signifikan sastra, keindahan, sosial budaya,, nilai, baik nilai filsafat, agama, maupun psikologi, serta , latar kesejarahannya
SASTRA SEBAGAI ILMU

Syarat Ilmu
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa sesuatu itu dapat digolongkan menjadi ilmu harus memiliki ontologi, epistemologi, aksiologi (deontologi). Pertanyaan kemudian, bagaimana ontologi sastra sebagai ilmu? Bagaimana epistemologi sastra sebagai ilmu dan bagaimana aksiologi sastra sebagai ilmu?
Ontologi Sastra
Apa yang menjadi ontologi atau hakikat atau inti sastra atau kesusastraan? Apakah Sastra atau kesusastraan itu seni atau bukan. Apakah Sastra atau kesusastraan itu media komunikasi atau bukan? Dengan terjawab hakikat sastra ini, maka semakin jelas terjawab masalah epistemologi sastra atau kesusastraan. Nyatanya hingga kini, apa ontologi sastra belum terjawab.
Ontologi
Arahan Epistimologi
Sastra sebagai bahasa
Ilmu-ilmu tentang kebahasaan
Sastra sebagai seni
Ilmu-ilmu tentang seni dan estetika
Sastra sebagai komunikasi
Ilmu-ilmu tentang komunikasi
Sastra sebagi simbol
Ilmu-ilmu mengenai simbol
Sastra sebagai hiburan
Kajian budaya populer


Epistimologi
Disiplin ilmu yang terkait
Ilmu-ilmu tentang Bahasa
Semantik, sintaksis dan pendukung lainnya
Ilmu-ilmu tentang seni
Seni dan estetika
Ilmu-ilmu tentang komunikasi
Komunikasi, sosial dan lainnya
Ilmu-ilmu tentang simbol
Hermenutika, Analisis, Wacana, Simbolisme, Dekonstruksi, Semiotics dan sebagainya.
Kajian budaya populer
Psikologi, sosial, budaya, humaniora dan sebagainya.

        Di sinilah keunikan sastra sebagai ilmu, sastra sebagai ilmu mempunyai lebih dari satu ontologi, hakikat, atau esensinya. Ontologi, hakekat, esensi yang berbeda, menghasilkan, atau memerlukan metode pengkajian yang berbeda pula. Hal inilah yang menyebabkan dalam tataran epistemologi, banyak metode pendekatan, pengkajian terhadap sastra.
Epistemologi Sastra
        Berdasarkan lima ontologi sastra tersebut, maka epistemologi sastra itu, bergantung dari ontologi yang dipahami. Bila kita menganggap sastra sebagai bahasa, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebahasaaan yang mengkaji baik tat bahasa, kegunaan bahasa, maupun makna dari penggunaan bahasa.. Bila kita menganggap sastra sebagai seni, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kesenian, bagaimana sastra tersebut memiliki nilai estetis dan keindahan dalam karyanya. Bila kita menganggap sastra sebagai komunikasi, maka epistemologinya adalah ilmu komunikasi, bagaimana sastra tersebut memiliki fungsi untuk menyampaikan sesuatu, baikitu secara tersirat maupun tersurat. Bila kita menganggap sastra sebagai simbol, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu tentang simbol yang mengkaji makna dari penggunaan simbl dalam suatu  karya. Bila kita menganggap sastra sebagai hiburan, maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebudayaan populer atau esensi sebagi media yang memberikan efek secara emosional dan psikologis
Aksiologi Sastra
Bagaimana asksiologi sastra? Bila mengikuti ontologi atau hakikat atau esensi sastra darai pemaparan di poin sebelumnya, maka aksiologi sastra adalah:
a.    Karya Sastra harus mencerminkan dan memupuk rasa keindahan.
b.    Karya Sastra harus membimbing peradapan dan keutuhan bangsa.
c.    Karya Sastra harus menuntun ke arah pembangunan rohani bangsa.
d.    Karya Sastra harus memberikan penerangan bagi persoalan-persoalan dalam masyarakat.
e.    Karya Sastra harus menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru.
f.     Karya Sastra harus mampu memberikan hiburan bagi penikmatnya.
        Maka yang menjadi aksiologi sastra adalah keenam unsur di at as. Soal apakah keenam unsur ini terdapat di dalam sebuah karya sastra atau tidak, menjadi masalah lain.

Empat Sifat Sastra sebagai Ilmu
        Pendekatan terhadap karya sastra dapat dibagi atas dua bagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik. Kedua pendekatan ini hanya terpisah dalam istilah saja. Pada kenyatannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi, saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra. Namun studi sastra sebagai bagian dari cabang ilmu pengetahuan, mempunyai empat sifat:

Sifat
Penjelasan








Kumulatif
Sastra sebagai ilmu ber-sifat kumulatif. Artinya sastra sebagai ilmu tidak sekaligus jadi, tetapi di-bentuk berdasarkan kajian-kajian atau penelitian-penelitian sebelumnya. Teori-teorinya selalu di-sempurnakan, ditambah, diperbaiki sehingga mampu menampung dinamika yang tumbuh di dalam sastra itu sendiri. Sebagai contoh semakin berva-riasinya pendekatan-pen-dekatan terhadap karya sastra menunjukkan kepa-da kita pendekatan-pen-dekatan tersebut mencoba menampung dinamika yang berkembang yang terdapat pada sebuah karya sastra, artinya kelemahan pendekatan yang satu dicoba tampung pada pendekatan yang lainnya.




Empiris
Berdasarkan sifat kumulatifnya, maka sastra sebagai ilmu didasarkan kepada penelitian dan pengkajian sebelumnya. Kenyataan atau realitas karya sastra tidak saja bersifat fakta tetapi juga faktual. Faktual di sini adalah berupa teori kajian yang berdasarkan hasil penelitian para ahli sastra sebeluymnya. Sehingga teori yang di paparkan berdasarkan hasil yang faktual dari para ahlli sastra. Terlepas dari karya sastra yang baik itu imajinatif maupun berdarar dari realitas.

Teoritis
Sastra sebagai ilmu mempunyai teori. Teori ini disusun berdasarkan pene-litian dan kajian terhadap karya-karya sebelumnya.


Bebas
Artinya dalam upaya memahami dan menjelas-kan sebuah karya sastra, sastra sebagai ilmu tidak menilai dari segi moral seperti buruk dan baik, atau hitam-putih. Sehingga dalamm pemahamannya subjek sangat berperan penting. Sejauh mana perspektifnya terhadap karya

        Jadi, sastra sebagai disiplin ilmu, berdiri dan sejajar dengan disiplin ilmu lain. Sedangkan kemandirian sastra sebagai ilmu-sastra, bergantung kepada dinamika yang terdapat di dalam karya sastra tersebut, sebab (karya) sastra itu dapat dilihat, didekati, dibicarakan dari berbagai sudut dan kepentingan. Namun sastra sebagai kajian, atau kritik, mungkin sulit melepaskan dirinya dari penilaian baik dan buruk.Adapun beberapa pendekatan yang lazim dipergunakan dalam pemahami karya sastra antara lain, ilmu sosiologi, melahirkan sosiologi sastra, psikologi melahirkan psikologi sastra, sejarah dan politik, filsafat, strukturalisme, semiotik, dan lainnya. 
        Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa sastra itu bukan bagian dari bahasa walaupun sastra mempergunakan bahasa sebagai medianya. Demikian juga halnya dengan disiplin ilmu sastra, disiplin ilmu sastra bukan bagian dari ilmu bahasa (linguistik). Hubungan antara ilmu sastra dengan ilmu bahasa saling melengkapi, bukan saling menaklukkan. Sastra memberi arti kepada bahasa dan bahasa juga memberi arti kepada sastra. Pengembangan ilmu sastra sebagai sebuah di siplin ilmu tidak akan mampu mengarah kepada dinamika yang diperlukan oleh dinamika yang berkembang di dalam karya sastra itu sendiri.
        Sastra adalah bagian dari kebudayaan bukan bagian dari bahasa. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan harus dilihat dalam pengertian luas yang berdimensi multi, sebab kalau tidak demikian, kita tidak akan pernah memahami alasan-alasan yang diberlakukan misalnya oleh Kejaksaan Agung ketika melarang buku-buku fiksi tertentu, atau memahami polisi dalam tidak memberikan izin terhadap pementasan-pementasan seperti baca puisi. Sumbangan karya sastra sebagai karya fiksi dalam menghumanisasikan kehidupan memang bagus, namun sumbangan sastra sebagai ilmu bagi pengembangan interdisiplin juga menjadi penting di masa depan.



Daftar Pustaka
Eagleton, Terry. 1988.  Teori Kesusastraan Suatu Pengenalan , terjemahan Muhammad Hj. Saleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Gazalba, Sidi. 1991. Sistematika Fisafat , Buku I, II dan III. Jakarta: Bulan Bintang.
Gie, The Liang. 2000.  Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Pranarka, A.M.W. 1987.  Epistemologi Dasar Suatu Pengantar . Jakarta: CSIS.
Rene Wellek dan Austin Warren, 1989.  Teori Kesusastraan. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.
 Sudjiman, Panuti. 1986.  Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Penerbit Gramedia, Jakarta.
 Sumantri, Jujun S. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.
 Sumardjo, Jakob. 2000. Filsafat Seni. Bandung: ITB Bandung.